Demi Malaikat Mungilku, Aku Rela Mati
Leni Siti Syamsiah
Langit tampak muram,
membakar awan hingga tampak merah menganga, gemuruh dunia mendordarkan bingkai
istana yang mulai lusuh karena terlalu setia ditimpa panas dan dinginnya
kehidupan. Air mata dunia seolah mengerti kemurkaanku pada kekuatan abadi yang
memaksa Ibu pergi ke haribaan-Nya. Buliran mutiara jatuh dari sela-sela bibir
malaikat-malaikat hati yang menatap tubuh kaku tak berdaya, sesaat malaikat itu
tak bisa mengontrol dirinya untuk tetap tenang ketika sandaran hati pergi ke
Maha Abadi, Aku terhanyut dalam genangan pasrah, merangkul malaikat mungilku,
ku hapus mutiara yang mengalir di sudut matanya, dan kubiarkan dia tetap
menatap keranda, mengantarkan Omanya pada Yang Tak Pernah Pergi.
Tasbih bergema,
teriring doa mengantarkan Ibu kembali pada Sang Maha Pencipta. Malaikat
mungilku menangkap setitik cahaya tersenyum ke arahnya, Iapun mengejutkan
hatiku, membuyarkan kehusyuan doa yang ku tasbihkan sedari tadi. “Umi, itu
Oma?” telunjuk mungil itu mengarah pada keranda kosong, Aku sempat
mengacuhkannya, dan kembali mendekap anakku. Buliran mutiara jatuh tiada
hentinya menatap raga kaku yang dibalut kain putih itu mulai terkubur tanah
merah. “Selamat tinggal Ibu, semoga kau bahagia di surga” ungkap hatiku.
Sisa-sisa air mata
langit mulai menghilang, langkah kami tergopoh-gopoh meninggalkan tempat
peristirahatan abadi. Aku mengais malaikat mungilku, matanya sembab, pakaiannya
kotor terkena percikan air dari lubang tanah yang tak sengaja terinjak.
Sesampainya di rumah, Aku langsung mengganti pakaian anakku, kemudian mendekap
dan meninabobokannya. Tak lama mata sembab itu mulai terlihat pulas.
Aku menerawang
dinding-dinding kamar, mendekap bingkai foto Ibu, bathinku menjerit tak kuasa
menahan sakitnya kehilangan. Sosok Ibu bagai mentari yang slalu menyinari kegelapan
dan pelindung saat orang lain menyiksa raga dan bathinku. Sesekali kutatap
paras mungil itu dan berbisik, “Anakku, semoga hidupmu selalu bahagia” kecupan
di kening itu sempat mengusik istirahatnya, namun ia tertidur kembali.
Mataku lelah namun tak
jua terlelap, sampai pagi menyambut, mentari tampak gesit menampakkan sinarnya,
menghujani seluruh isi dunia dengan cahaya. Malaikat mungil itu berlari ke
arahku, ia mencium pipi dan keningku. Aku tersenyum. Namun, senyum di paras ini
tak berlangsung lama, terkejutkan dengan suara ketukan pintu. “Siapa yang
mengetuk pintu?” bathinku.
Aku terkejut melihat
seorang pria tlah berdiri tegak dengan 2 bodyguard di sampingnya.
“Hi, Aku turut berduka
cita atas kematian Ibumu,” ungkapnya. Hatiku masih terkejut hingga mulutku
gagap mengeluarkan kata, “mmm……auuuu apaa kamuu ke siniiiii?”
“Tenanglah, aku hanya
ingin berbaik hati padamu, lupakan sejenak permasalahan kita sayang?” ungkapnya
mengejek sembari mengelus daguku. Bathinku jijik melihat tingkahnya. Aku segera
mengusirnya. Namun bodyguardnya malah memborgol tanganku, manusia rakus itu
masuk menemui malaikat mungilku.
“Jangan sentuh
anakku!!!!” bathinku tak rela jika dia berani menyentuh anakku. Malaikat mungil
itu terkejut melihat kedatangan lelaki itu, matanya seolah diterkam serigala.
“Tenanglah! Aku sebenarnya ayah kandungmu????”ucap lelaki itu. Namun Aku segera
menangkas ucapannya bahwa lelaki itu hanya bermulut besar. Anakku yang baru
berusia 2 tahun hanya menutup wajah dengan jari-jari mungilnya, “Kamu bukan
ayah, abi dah meninggal” jelas Angel. Lelaki itu tersenyum sinis.
Tangan ini seolah
terikat tali kuat, sehingga sulit untukku lepaskan diri dari kedua
bodiguardnya. Kukerahkan tenaga untuk melepaskan diri dari belenggu itu, namun
lelaki itu malah murka, kemurkaan membuatnya semakin buas. Matanya membelalak,
“Kamu wanita hina!!” tangan itu melayang tepat ke arah pipiku. Lelaki itu
menyungkurkan tubuhku ke sudut meja hingga tanganku tergores dan berdarah. Aku
hanya meringis, menatap darah segar berceceran bagaisaksi atas kelamnya
kehidupan ini.
Aku tatap malaikat
mungilku, ia hanya membanjiri pipinya dengan air hujan yang mengalir dari bola
matanya, tanpa sepatah katapun. Ia hanya terlihat menengadahkan jari-jari
mungilnya, mata sendunya menengadah kelangit, ku tangkap bibir mungilnya
kumat-kamit seolah ia sedang berdoa pada Sang Maha Pencipta.
“Rupamu cantik jelita,
dulu ku memujamu laksana putri raja, tapi kau memperlakukanku bak sampah. Kau
tolak cintaku mentah-mentah. Semenjak itu aku benar-benar bersumpah akan
membinasakanmu” ungkapnya. Lelaki itu terus melampiaskan dendamnya dengan
menampar dan memukul tubuhku.
“Karena aku tak kan
sudi menikah dengan lelaki kasar sepertimu”
“Arrrght….. Aku akan
membunuh siapapun yang mencoba menghalangi keinginanku, suamimu tlah tiada,
ibumu baru saja meninggal, dan sekarang giliran anakmu! Karena sekarang
anakmulah sumber kebahagiaanmu, dan aku pasti akan menghilangkan nyawanya” telunjuknya
mengarah pada Angelyang bersembunyi di balik kursi.
Ancaman itu membuatku
kalang kabut, ketakutan terus saja menghantuiku. Dalam ketakutan, aku hanya
membalas semua perlakuan kasarnya dengan doa. Doa agar dia mendapat balasan lebih
menyakitkan daripada yang aku rasakan saat ini. Bathinku menjerit, pikiranku
melayang terbang teringat Ibu di surga, ia mempertaruhkan
nyawanya demi menyelamatkanku dari lelaki gila ini, Ibu selalu menangkas setiap
kali lelaki ini ingin memukulku, bahkan acapkali pukulan itu mengenai
pundaknya. Ia selalu bilang, bahwa anak adalah sebuah titipan dan harus terus
dijaga meski nyawa taruhannya.Dunia terus berjalan, kelahiran seolah renkarnasi
dari kehidupan sebelumnya. Sama halnya seperti hidupku. Dulu Ibu mempertaruhkan
nyawanya untukku, dan sekarang aku yang harus mempertaruhkan nyawa untuk
malaikat mungilku.
Semangat Ibu terus
berkobar di syaraf-syaraf otakku, mengalir di setiap nadi. Aku mulai
menengadahkan kepala, berusaha bangkit. Namun badan ini terlalu lemah menahan
beban kehidupan, hingga aku tengkulai kembali.
“Umiiiiii, tolooooong!!!!!”
Aku membuka mata nanar
mencari keberadaan malaikat mungilku. Dalam pandanganku, Anggel melambaikan
tangan dan berlalu dibawa lelaki itu. Aku terus mengumpulkan energi agar bisa
memacu kakiku mengejar Angel. Sampai aku tiba di sebuah rumah, aku mengendap-endap
melihat keadaan sekitar dan ku lihat lelaki itu menarik anakku masuk lewat
pintu garasi.
Menyaksikan anakku
diperlakukan demikian, Aku memaksa masuk dan mencari anakku, tetapi anakku tak
ku temukan di setiap sudut rumah itu. Aku terus memanggil nama Angel.
Beberapa menit
kemudian, sosok lelaki
itu menampakkan batang hidungnya,namun Angel tak terlihat di sampingnya,
“Kemana Anakku?”
Lelaki itu
menepuk-nepukan tangannya, “kamu datang cepat, namun sepertinya terlambat.
Anakmu sudah ku kunci di gudang yang telah kubakar”
Seperti terkena
kilat, aku terperanjat mendengar hal tersebut,ku tatap langit nampak asap
bergerombol,kaki ini terus berlari sekencang-kencangnya mendekati titik asap
itu. Ternyata gudang, Si Jago merah menyala-nyala tlah melahap bagian depan
gudang itu. Tanpa pikir panjang, ku berusaha masuk, mencari anakku.
Puing-puing bangunan
berjatuhan menyentuh kakiku, namun ku tetap melangkah, ku terawang sudut-sudut
gudang itu. Dan akhirnya aku menemukan Angel, Ia tak sadarkan diri. Aku
mengangkatnya dan membawanya keluar gudang.
Mentari seolah
tersenyum melihat kami berdua selamat.Tetapi lelaki itu tergesa-gesa dan gundah
gulana.
“Kamu manusia
gila, tega membunuh anak yang tak berdosa, jika sebelumnya aku masih diam atas
perlakuan kasarmu, sekarang aku akan melaporkanmu ke polisi” ucapku sembari
mendekap tubuh mungil Angel.
“Maafkan aku,
aku khilaf, Ku tak menyangka jika kamu sanggup melakukan hal yang membahayakan
nyawamu”
“Demi malaikat
mungilku, aku rela mati”
“Maafkan aku”
ucap lelaki itu menyesali perbuatannya.
Aku membawa
Angel ke rumah sakit dan melaporkan lelaki itu ke pihak yang berwajib. Iapun
terancam hukuman penjara seumur hidup.
Sebulan
kemudian, mentari tlah membanjiri makhluk Tuhan dengan sinar keceriaan, begitu
pula malaikat mungilku. Ia bisa tersenyum kembali, jasmani dan rohaninya kini
tlah sehat seperti sedia kala. Semua kenangan buruk telah di simpan sebagai
masa lalu, dan menjalani masa sekarang tuk masa depan yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar