Senin, 23 Maret 2015



Demi Malaikat Mungilku, Aku Rela Mati

Leni Siti Syamsiah 

Langit tampak muram, membakar awan hingga tampak merah menganga, gemuruh dunia mendordarkan bingkai istana yang mulai lusuh karena terlalu setia ditimpa panas dan dinginnya kehidupan. Air mata dunia seolah mengerti kemurkaanku pada kekuatan abadi yang memaksa Ibu pergi ke haribaan-Nya. Buliran mutiara jatuh dari sela-sela bibir malaikat-malaikat hati yang menatap tubuh kaku tak berdaya, sesaat malaikat itu tak bisa mengontrol dirinya untuk tetap tenang ketika sandaran hati pergi ke Maha Abadi, Aku terhanyut dalam genangan pasrah, merangkul malaikat mungilku, ku hapus mutiara yang mengalir di sudut matanya, dan kubiarkan dia tetap menatap keranda, mengantarkan Omanya pada Yang Tak Pernah Pergi.
Tasbih bergema, teriring doa mengantarkan Ibu kembali pada Sang Maha Pencipta. Malaikat mungilku menangkap setitik cahaya tersenyum ke arahnya, Iapun mengejutkan hatiku, membuyarkan kehusyuan doa yang ku tasbihkan sedari tadi. “Umi, itu Oma?” telunjuk mungil itu mengarah pada keranda kosong, Aku sempat mengacuhkannya, dan kembali mendekap anakku. Buliran mutiara jatuh tiada hentinya menatap raga kaku yang dibalut kain putih itu mulai terkubur tanah merah. “Selamat tinggal Ibu, semoga kau bahagia di surga” ungkap hatiku.
Sisa-sisa air mata langit mulai menghilang, langkah kami tergopoh-gopoh meninggalkan tempat peristirahatan abadi. Aku mengais malaikat mungilku, matanya sembab, pakaiannya kotor terkena percikan air dari lubang tanah yang tak sengaja terinjak. Sesampainya di rumah, Aku langsung mengganti pakaian anakku, kemudian mendekap dan meninabobokannya. Tak lama mata sembab itu mulai terlihat pulas.
Aku menerawang dinding-dinding kamar, mendekap bingkai foto Ibu, bathinku menjerit tak kuasa menahan sakitnya kehilangan. Sosok Ibu bagai mentari yang slalu menyinari kegelapan dan pelindung saat orang lain menyiksa raga dan bathinku. Sesekali kutatap paras mungil itu dan berbisik, “Anakku, semoga hidupmu selalu bahagia” kecupan di kening itu sempat mengusik istirahatnya, namun ia tertidur kembali.
Mataku lelah namun tak jua terlelap, sampai pagi menyambut, mentari tampak gesit menampakkan sinarnya, menghujani seluruh isi dunia dengan cahaya. Malaikat mungil itu berlari ke arahku, ia mencium pipi dan keningku. Aku tersenyum. Namun, senyum di paras ini tak berlangsung lama, terkejutkan dengan suara ketukan pintu. “Siapa yang mengetuk pintu?” bathinku.
Aku terkejut melihat seorang pria tlah berdiri tegak dengan 2 bodyguard di sampingnya.
“Hi, Aku turut berduka cita atas kematian Ibumu,” ungkapnya. Hatiku masih terkejut hingga mulutku gagap mengeluarkan kata, “mmm……auuuu apaa kamuu ke siniiiii?”
“Tenanglah, aku hanya ingin berbaik hati padamu, lupakan sejenak permasalahan kita sayang?” ungkapnya mengejek sembari mengelus daguku. Bathinku jijik melihat tingkahnya. Aku segera mengusirnya. Namun bodyguardnya malah memborgol tanganku, manusia rakus itu masuk menemui malaikat mungilku.
“Jangan sentuh anakku!!!!” bathinku tak rela jika dia berani menyentuh anakku. Malaikat mungil itu terkejut melihat kedatangan lelaki itu, matanya seolah diterkam serigala. “Tenanglah! Aku sebenarnya ayah kandungmu????”ucap lelaki itu. Namun Aku segera menangkas ucapannya bahwa lelaki itu hanya bermulut besar. Anakku yang baru berusia 2 tahun hanya menutup wajah dengan jari-jari mungilnya, “Kamu bukan ayah, abi dah meninggal” jelas Angel. Lelaki itu tersenyum sinis.
Tangan ini seolah terikat tali kuat, sehingga sulit untukku lepaskan diri dari kedua bodiguardnya. Kukerahkan tenaga untuk melepaskan diri dari belenggu itu, namun lelaki itu malah murka, kemurkaan membuatnya semakin buas. Matanya membelalak, “Kamu wanita hina!!” tangan itu melayang tepat ke arah pipiku. Lelaki itu menyungkurkan tubuhku ke sudut meja hingga tanganku tergores dan berdarah. Aku hanya meringis, menatap darah segar berceceran bagaisaksi atas kelamnya kehidupan ini. 
Aku tatap malaikat mungilku, ia hanya membanjiri pipinya dengan air hujan yang mengalir dari bola matanya, tanpa sepatah katapun. Ia hanya terlihat menengadahkan jari-jari mungilnya, mata sendunya menengadah kelangit, ku tangkap bibir mungilnya kumat-kamit seolah ia sedang berdoa pada Sang Maha Pencipta.
“Rupamu cantik jelita, dulu ku memujamu laksana putri raja, tapi kau memperlakukanku bak sampah. Kau tolak cintaku mentah-mentah. Semenjak itu aku benar-benar bersumpah akan membinasakanmu” ungkapnya. Lelaki itu terus melampiaskan dendamnya dengan menampar dan memukul tubuhku.
“Karena aku tak kan sudi menikah dengan lelaki kasar sepertimu”
“Arrrght….. Aku akan membunuh siapapun yang mencoba menghalangi keinginanku, suamimu tlah tiada, ibumu baru saja meninggal, dan sekarang giliran anakmu! Karena sekarang anakmulah sumber kebahagiaanmu, dan aku pasti akan menghilangkan nyawanya” telunjuknya mengarah pada Angelyang bersembunyi di balik kursi.
Ancaman itu membuatku kalang kabut, ketakutan terus saja menghantuiku. Dalam ketakutan, aku hanya membalas semua perlakuan kasarnya dengan doa. Doa agar dia mendapat balasan lebih menyakitkan daripada yang aku rasakan saat ini. Bathinku menjerit, pikiranku melayang terbang teringat Ibu di surga, ia mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkanku dari lelaki gila ini, Ibu selalu menangkas setiap kali lelaki ini ingin memukulku, bahkan acapkali pukulan itu mengenai pundaknya. Ia selalu bilang, bahwa anak adalah sebuah titipan dan harus terus dijaga meski nyawa taruhannya.Dunia terus berjalan, kelahiran seolah renkarnasi dari kehidupan sebelumnya. Sama halnya seperti hidupku. Dulu Ibu mempertaruhkan nyawanya untukku, dan sekarang aku yang harus mempertaruhkan nyawa untuk malaikat mungilku.
Semangat Ibu terus berkobar di syaraf-syaraf otakku, mengalir di setiap nadi. Aku mulai menengadahkan kepala, berusaha bangkit. Namun badan ini terlalu lemah menahan beban kehidupan, hingga aku tengkulai kembali.
“Umiiiiii, tolooooong!!!!!”
Aku membuka mata nanar mencari keberadaan malaikat mungilku. Dalam pandanganku, Anggel melambaikan tangan dan berlalu dibawa lelaki itu. Aku terus mengumpulkan energi agar bisa memacu kakiku mengejar Angel. Sampai aku tiba di sebuah rumah, aku mengendap-endap melihat keadaan sekitar dan ku lihat lelaki itu menarik anakku masuk lewat pintu garasi.
Menyaksikan anakku diperlakukan demikian, Aku memaksa masuk dan mencari anakku, tetapi anakku tak ku temukan di setiap sudut rumah itu. Aku terus memanggil nama Angel.
Beberapa menit kemudian, sosok lelaki itu menampakkan batang hidungnya,namun Angel tak terlihat di sampingnya, “Kemana Anakku?”
Lelaki itu menepuk-nepukan tangannya, “kamu datang cepat, namun sepertinya terlambat. Anakmu sudah ku kunci di gudang yang telah kubakar”
Seperti terkena kilat, aku terperanjat mendengar hal tersebut,ku tatap langit nampak asap bergerombol,kaki ini terus berlari sekencang-kencangnya mendekati titik asap itu. Ternyata gudang, Si Jago merah menyala-nyala tlah melahap bagian depan gudang itu. Tanpa pikir panjang, ku berusaha masuk, mencari anakku.
Puing-puing bangunan berjatuhan menyentuh kakiku, namun ku tetap melangkah, ku terawang sudut-sudut gudang itu. Dan akhirnya aku menemukan Angel, Ia tak sadarkan diri. Aku mengangkatnya dan membawanya keluar gudang.
Mentari seolah tersenyum melihat kami berdua selamat.Tetapi lelaki itu tergesa-gesa dan gundah gulana.
“Kamu manusia gila, tega membunuh anak yang tak berdosa, jika sebelumnya aku masih diam atas perlakuan kasarmu, sekarang aku akan melaporkanmu ke polisi” ucapku sembari mendekap tubuh mungil Angel.
“Maafkan aku, aku khilaf, Ku tak menyangka jika kamu sanggup melakukan hal yang membahayakan nyawamu”
“Demi malaikat mungilku, aku rela mati”
“Maafkan aku” ucap lelaki itu menyesali perbuatannya.
Aku membawa Angel ke rumah sakit dan melaporkan lelaki itu ke pihak yang berwajib. Iapun terancam hukuman penjara seumur hidup.
Sebulan kemudian, mentari tlah membanjiri makhluk Tuhan dengan sinar keceriaan, begitu pula malaikat mungilku. Ia bisa tersenyum kembali, jasmani dan rohaninya kini tlah sehat seperti sedia kala. Semua kenangan buruk telah di simpan sebagai masa lalu, dan menjalani masa sekarang tuk masa depan yang lebih baik.